MULAILAH MEMBERI
Bila tak seorangpun tak
berbelas kasih pada kesulitan anda, atau tak ada yang mau merayakan
keberhasilan anda,
Atau tak seorangpun bersedia
mendengarkan, memandang, memperhatikan, apapun pada diri anda, jangan masukan
ke dalam hati
Manusia selalu disibukan oleh
urusannya sendiri
Anda tak perlu memasukan itu
ke dalam hati
Karena hanya akan menyesatkan
dan membebani langkah anda
Ringankan hidup anda dengan memberi
pada orang lain
Semakin banyak anda memberi
semakin mudah anda memikul hidup ini
Berdirilah di depan jendela,
pandanglah keluar, tanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa anda berikan pada
dunia ini
Pasti ada alasan kuat mengapa
anda hadir disini
Bukan untuk merengek atau
meminta dunia menyanjung anda
Keberadaan anda bukan untuk
kesia-siaan
Bahkan se ekor cacingpun
dihidupkan untuk menggemburkan tanah,
Dan sebongkah batu dipadatkan
untuk menahan gunung
Alangkah hebatnya anda dengan
segala kekuatan yang tak dimiliki siapapun untuk mengubah dunia
Itu hanya terwujud bila anda
mau memberikannya
=SAAT=
Mei 2004
Keterpaksaan..
Itulah yang terjadi saat ini
Terbelenggu …..
Itulah persaan saat ini
Mengapa ?
Hanya diam kebisuan disekitar
Beribu tanya tak terucap
Melingkar kepala berguruh akan kepastian
Hela nafas berat dan sesak
Badan remuk hati tergores
Haruskah berteriak memanggil,
Tuhan kau dimana ?...
Sedang aku terpuruk akan kenikmatan duniawi
Jalan hitam ditempuh bersama
Bayangan setan kematian
Angan melayang tinggi jauh di awan
Badan diam menahan kenikmatan
Tetesan dosa mengalir perlahan
Menggoreskan catatan hitam
Bermuara pada penyesalan
Saat ini dan itu
Masihkah tuhan milikku ?……
Hal;
-harapan dan ratapan para pendosa-
-Diambil saat terjadi-
- kisah nyata sang penulis yang merupaka
pengalaman yang benar-benar terjadi-
- untuk jadi cermin buat pengarang-
- hanya mengingatkan pada dirinya sendiri-
-tuhan tidak membutuhkan manusia-
-……..-…….-………-…….-……-……-
-HAMPA JIWA-
Kala badai menerpa jiwa, tetaplah kau tegar
berdiri
Kala cinta kian memudar,
Pastikan cintamu takan hilang
Cinta itu indah
Bagi mereka yang dapat meraihnya
Jangan kau kejar cinta
Bila hatimu sedang gundah
Cinta takan menghampiri ketulusan hati
Untuk menyejukan jiwa
Dan mengisi kehampaan hati untuk
Jiwa yang kosong….
100105
Jam. 03.13.00 ( RIiNA )
Sang pujangga
SADARKAH
Diantara dua kekasihku dan diantara dua
cintaku
Yang terbagi dengan cintamu
Sadarkah aku tak mungkin dua cinta
Sadarkah aku tak mungkin dua kekasihku
Yang harus jadi pendampingku
Harus ku pilih satu, harus kulepaskan
dirimu
Maafkan aku melukaimu
Tak jadi pendampingku
Karena yang terbaik untukku
Dan itu terbaik untukmu
Maafkan aku melukaimu
Tak bisa bersamamu
Refro :2005
BAYANGKAN
Bayangkan….
Bila
ku tak lagi didekatmu
Bila ku tak lagi dihatimu, aku akan pergi
jauh
Dan bila esok hari kan jadi kelabu
Hari-hari yang telah kita lalui akan
menjadi debu
Hatimu menangis, hatimu terluka
Maafkan aku bila harus pergi dan tak pernah
kembali
Hanya sebuah waktu yang pasti menunggu
Suatu saat nanti kita kan bertemu kembali
Refro: 2006
JIWA
Aku adalah jiwa yang tertekan
Tertekan kehidupan dengan kebutuhan
Kepala berair dan badan berair
Terkumpul membentuk nafas kehidupan
Hidup yang takan berujung di suatu jalan
Jalan pernafasan dari sebuah cerita
Aku adalah tekanan kehidupan
Merayap dan tersendat
Menyelip diantara kesombongan
Menggoreskan kepedihan jiwa terlunta
Demi penguasa dan keangkuhan
Dunia tak mau dipenuhi tekanan
Bumi pun enggan jadi tempat berpijaknya
Para angkara yang berpesta
Hidup tertawa beralas derita sesama
Aku adalah jiwa yang bebas
Kan ku langklahkan raga menuju kemenangan
Dimana aku kan jalani dengan kepuasan
sampai dunia tahu
Akulah jiwa kebebasan !
x-mast,dec
=======
Kembali ku ingat dirimu,
Dirimu yang t’lah lama membeku
Lama ku tunggu akhir dari pengharapan
Berharap kau seperti apa yang aku inginkan
Sewindu sudah aku bermimpi
Bermimpi dalam kenyataan yang sebenarnya
hanya harapan
Ingin aku merajut tali kasih bersamamu
Bercanda, tertawa, bercinta layaknya sejoli
…… ( terlalu gombal)
Sewindu ku berjalan dalam kehampaan
Ketidakpastian akan masa depan tak perduli
Tak perduli ….. tak perduli…. Tak perduli….
Sekali lagi tak perduli, itu ucapmu…
Tengah malam, 230405
…………
“…………..”
Ku tak mau mengingatmu lagi, ku tak mau
bertemu lagi,
cukup lama aku hidup dalam bayanganmu itu,
yang telah menghancurkan perasaan ini
Ku tak mau berharap lagi hatimu untuku, sebab
itu hanya sebuah kesalahan besar
Kau tercipta sebagai tanda keagungan Tuhan,
yang patut ku nikmati bukan kumiliki
Maafkan aku agak melupakanmu, maafkan aku
tak perduli segala auramu
Peluk cium itu hanya biasa dan terbiasa, sampai
lupa dimana arti kata cinta
Ku ingin memilikimu untuk yang terakhir, apalah
kata berlainan makna
Ku kan coba melangkah perlahan menjauh dari
lingkaran cintamu
Agar tak ku cium lagi wangi rambutmu yang
sempat membuat aku gila
Cukuplah sayang,…. cukup sampai disini
Kau lebih baik pergi dan tak kembali
Jaga dirimu dan cintailah cintamu, sayangilah
sayangmu, rindumu juga hidupmu
Kita harus berpisah tapi bukan terpisah, dan
kita yakinkan ini jalan terbaik
Utara, selatan, timur, barat itu arahmu, dan
ku kan berjalan berlawanan
Selamat jalan dan selamat tinggal, bawalah
segala rasa yang kau punya
Jangan tinggalkan titik kenangan disini
Hati do’a kita ucapkan bersama, bahagia kau
dan aku selamanya
For someone :
yang
t’lah memberikan seribu pragmen cinta
Kuyakinkan dirimu bukan untukmu
1999
‘’…………………………..’’
Mulailah …....
Aku mulai mencatat apa yang dirasakan dan
apa yang difikir…
Melayang terbang jauh sekali,
Tak terjangkau fakta nurani
Langkah di tempuh tanpa arah
Akankah matahari berhenti
Memperlihatkan kesilauan tubuhnya
Demi nafsu angkara !
Mulailah………
Aku mulai merasakan ..dimana sesuatunya
sangat ratiotic
Jala hidup pangjang terawang namun sulit
tuk di tempuh dengan santai
Inikah hidup sang pujangga?
Aku adalah pujangga kehidupan yang terbang
dalam kebodohan
Yang tertidur dalam kesombongan
Yang bernafas dengan kebokbrokan
Mulailah……..
Ku in gat arti kehidupan ini semua tak
berarti
Hidup bukan sekedar hidup itulah yag dim catat
Ketidakpuasan bikanlah hidup
Itulah yang dirasakan
Apa yang kalian catat dan rasaakan ?
161104
LARUT
Larut sudah anganku juga bayangmu
Larutlah segala apa yang ada
Dari daun pintu ku lihat lagi dirimu
Dirimu yang selama ini tak ku pahami
Satu dekade larut dalam ambang tak tentu
Kucoba tuk cari kata-kata yang dulu itu
Kata biasa tapi sungguh luar biasa
Dimana kaulah simponi ritme ini
Mengalun hingga membuat orang melayang
Dari dulu kau telah tau iramanya
Mengapa hilang begitu cepat ?
Andai waktu bisa kembali
Takkan aku titipkan rindu ini padamu
Yang kau bawa dan kau simpan untuk di buang
Kini kau tepat dihadapanku
Hanya air matamu yang bercerita semua
Ku coba mengerti apa yang terjadi
Gelap,resah,dan kecewa yang ada sesak tak
tertahan lagi
Kau tidak jauh beda dengan gumpalan awan
hitam
Bergulung kemudian memudar dihempas angin
dan aku terhenyak dalam kebisuan
Larutt…….larut sudah anganku
Laruttttt….. dalam penyesalan, sementara
Aku masih mencoba cari sebuah kata yag
telah lama hilang
Dec2004
Sadar
Ada setitik kebanggan terlintas kala
petualang sadar dari ceritanya pantaskan dia berangan
Jauh terlau jauh berangan tapi aku adalah
sang petualang ya itulah aku
Samar kulihat bentuk suatu kehidupa antara
pilihan yang tak pernah ku pilih
Aku hanya berangan keajaiban datang yang
segalanya takkan kunjung
“monyet jadi raja itu cerita lalu dan aku
masih mengingatnya biarlah dia berpetualang
Dec2004
Lagi – lagi
Lagi-lagi tentang kau mata berkaca penuh
kerinduan
Lagu ini telah lama kau matikan sesaat
setelah kau beranjak ke kota itu
Seolah elegy yang membuatku terlelap lagi
Lagi-lagi kau
Asap mengepul dari arah yang berlawanan
ketika kau ikuti arah perginya bayangmu
Mengepul bergulung dan sirna rupanya itulah
wujud sebuah khayalan
Lagi-lagi
Ku usap peluh di kening dan mencoba tuk berpaling dari segalnya
Karena hidup bukanlah mimpi dan tanganku
takkan berhenti disini sampai lagu itu tlah ku dapatkan dan tenang pun
bersandar disana kau dan aku bersandar dan lagi-lagi tentang kau
Akankah ?
Novenber awal 2004
-abdoel-
Puncak kebun teh
Deru beruang masai kuduk beruang masai
langit gelap diatas perkebunan the
Malam hanya hitam sewarna rambutnya
Bintang bintang serta energy alam berpindah
dari kai dan tubuh halimah yang telanjang semerbak ragwinya adalah aroma daun
teh muda dan butir-butir embun
Aku menghujam pada bumi yang penuh gelora
Dijalan ibu kota diprotokol-protokol
arteri-arteri dipagar ibu kota di gedung-gedung beton-beton karpet-karpet dan
ruang-ruang kantor bagai seribu ifrit yang menghisapi sum-sum
Adakah yang lebih menyakitkan dari
penghilangan suatu kesempatan
Halimah namanya ……….
Ia tinggal di batas desa kulit tanganya
halus dan lembut tak biasa kerja kasar katanya
Ah,,suaranya gemerisik daun bambu
Klakson-klakson kendaraan dan lampu merah
-lampu merah yang mati membuat ruwet jalanan begitulah derai lengking tawaku
menatap matahari yang membuat bayangku rebah di trotoar
Adakah yang lebih memilukan dari
pemberitahuan jiwa dan harapan?
Sembilan belas tahun umur halimah ( aku
suka angka Sembilan )
Sekarang ia sudah tak sekolah seumur
hidupnya ia ingin sekali ke kota
Bekerja dan menjadi terkenal seperti
artis-artis sinetron
Mengapa tidak ? Katanya……………….
Deasy ratnasari berasal dari desa
Hangat tubuhnya merasuki jiwaku membawa
keheninga yang nyata
Ia tersedak pada ciuman pertama
Di de-pe-er ada demonstrasi lagi kata
penjual Koran
Di semanggi dan gatot subroto mahasiswa dan
rakyat di tembaki dan disepak-sepak aparat
Ada yang mati lagi kata penjual Koran dan yang luka – luka banyak sekali di rumah
sakit Jakarta
Taksi-taksi hancur dan kendaraan umum tak
beroperasi mau pulang atau ikut demontrasi?
Kata penjual Koran kalau ikut biar bareng
saya siapa tahu dapat rejeki
Rambut halimah legam lebat hutan Kalimantan
Keharuman kembang cempaka menjadi miliknya
Matanya jatuh di pundakku ketika telapakku
menyentuh dadanya
Aku punya kebun teh diatas bukit ,
katanya…….
Beberapa sudah harum baunya
Halimah ohh halimah ,
Aku menghujam pada bumi yang sedang
bergelora
Gedung-gedung ini aspal-aspal ini menderaku
bagai apartheid
Mengikisku dari khayalan social bagai
kolera
Ahhh,,masa apa iniii….
Yang menggiring hukum manusia menjadi hukum
rimba
Membuat tanaman teduh menjadi kaktus-kaktus
membuat kelahiran sekaligus kematian
Membuat berjuta orang onani membuat isi
gelas menjadi air kencing
Sungai-sungai lembah-lembah mencari
jejak-jejak kehidupan
Aku melihat tubuhku dipenuhi gubuk-gubuk
kardus kali-kali hitam teriak lapar bocah-bocah berkepala besar
Ohh,, suaranya gemirisik daun bamboo
melingkar lingkar mengepuh setiap pori
Ia membawaku pada padang-padang ilalang
subur tempat terbaru menariku lepas dari bumi
Mengempasku pada kulminasi syarat
Oh tuhan ….. kau dimana
Aku menghujam pada bumi yang penuh gelora
Diatasku , langit sunyi …… retak
November2000
23.00
Kembang Batu
Kembang diatas bukit,
tumbuh semampai dijaga angin sewarna senja
Ia makin mekar
terpisah beberapa bukit
Adalah pupuk bagi
akarnya
Di kemarau ia buat
sajak-sajak
Musim hujan terserang
rindu
Waktu kian waktu
tercatat sempurna
Pada daun dan
batangnya
Kembang tidur bulan
tidur
Matahari sampai saat
nanti tersemat
Di keutuhan jiwa
01.30 Nov 2000
Kabut Pangrango
Kabut pangrango
sepenuhnya hinggap dimataku
Dingin pangrango
sepenuhnya bebat tubuhku
Misting-misting aku
rasa masih berserakan
Kopi yang aku rebus
tadi jadi es
Ah, .... masih lama
dari fajar
Aku rindu kekasihku
Peristiwa
Mei, Malam Rabu 00.40
2004
Tiada guna kukatakan
Saat malam menjelang
Kau ibarat bayangan
hitam
Rintik hujan turun
masih berasa
Basah merebah berlumur
amarah
Saat itu .... tunas
kasih tumbuh berkembang
Seketika berubah jadi
keraguan
Ragu akan kehadiran
harimu
Pada asa dan isi
nurani
Aku kembali bertanya
pada malam
Mengapa ini harus
kulalui
Kasih manis berganti
kealfaan
Aku ragu akan dirimu !
Ada segumpal
penyesalan
Aku telah mengusik
tanaman itu
Bunga segar kupetik
hampir layu
Meninggalkan jejak
Sementara aku
terbaring lemah
Saat mataku jatuh
didadanya
Hanya desahan yang
kudengar
Kembali berulang ...
Lalu sirna lenyap
Seulas senyum puas
kala kuberusaha sadarkan diri
Sesal itu tak hilang
Malah membayang
Hanya keraguan
kudapatkan
Teja disudut mata
Sebatang rokok sebutir
aspirin
Segelas teh manis dan
sejuta nyut-nyutan di kepala
Aku tergolek di limbah
hidup
Terserang demam
Dan influenza
Menggigil dan linu
Aku harap ada hujan
datang
Biar aliri rambut,
alis, dan bulu-bulu mataku
Biar samarkan air mata
Dari kehampaan kini
Aku ingin wukuf, aku
ingin sa’i
Berdengung-dengung
memanggil cahaya
Sepertinya telah lama
Aku berkirim surat
Ke Sidratul Muntaha
Mohon pinjaman hari
esok, tapi belum dapat jawaban
Pesisir
Jam 20.00
Lidah buih mencium
pasir pada peluk laut
Akan tanah dibatas
perkampungan
Nelayan pergi dan
pulang bersama anak mereka
Yang jelang dewasa
coba katakan
Inilah laut nafas
kehidupan yang juga dihembuskan perempuan pesisir lewat sepanjang waktu dari
fajar hingga fajar
Dari ranjang hingga
gelak pasar
O .... kibarlah kibar
layar
Hembuslah hembus angin
Bawa perahu nelayan ke
tengah senyap
Dengan gelora jala dan
pancing
Dari degup jantung
laut dan degup hidup kaum pesisir
Pesta
Usai pesta tak lagi hingar
bingar
Tinggal gelas piring
mangkok, nampan sendok, garpu, dan makanan sisa, minuman sisa terserak
Serak, dilantai dan
meja tak ada bak sampah
Hanya botol kosong
membuat pusing senyap
Dan sunyi harummu
masih bekas melekat
Pada langkah pertama
birama dansa
Berapa langkah lalu
kau pergi tergesa
Di lingkup bola
manusia jadi tirai bingkai terakhir
Perspektif jauh dari
jangkau
Aku tiba-tiba lelah
dan kulai
Terbujur merindukanmu
Dalam gelap sergap
lingkup vodka ...
Jalan sepi hampir pagi
Aku tenggelamkan wajah
pada embun
Mencerna setiap pori
kejadian pesta
Yang membuat jatuh
cinta
Ada tiga hal yang membuatku bahagia
sekaligus menentramkan,
Hal pertama ;
Siang hari di padang stepa yang cerah
Karena letihku aku sandarkan tubuh
Pada pokok pohon yag rindang
Saat itu ada seekkor elang melintas di
cakrawala biru..
Hal kedua ;
Sore hari dekat senja di padang pasir yang
kemerahan
Karena lelahku aku tautkan tubuh pada diam
bongkah batu
Saat itu seekor ular melintas di rangkum
matahari
Hal ketiga ;
Ini hal yang paling membahagiakan sekaligus
menentramkan
Yaitu saat kau berada dekat denganku…
Jan 05
AKU PELUK KAU KARENA KERAGUAN
……………………………………………..
Sore hari
Diatas loteng rumah kayu
Aku menatap jalanan lurus yang menghilang
dibalik bangunan
Cahaya matahari lewat daun dan dahan
Membentuk garis-garis
Lalu menempel di tanah aspal
Berbaur dengan serak kembang flamboyant
Melingkar menyebar menggumpal mengkrucut
Lalu terlempar ke angkasa menjadi kau
Yang menyerap mata dan seluruh syaraf
“ aku sedang rindu,”
Lama kita tak saling jumpa
Jarak di depan pun tak kurang jauhnya
Tapi berartikah ?
Di setiap belukar dan jalanan aspal, selalu
kucari bara yang pernah terhidupkan bersama
Agar jadi pasti tentang mimpi-mimpi tidurku
serta kau
Agar jelma jadi keringat, sebuah kumpulan bahagia
dalam danau dan biduk yang tenang seperti mekar teratai pada semedi ajna, tapi
layakkah ?
Burung-burung mulai pada pulang induk-induk
menyapa anak-anak mereka
Dalam hangatnya sarang dijalan atau di kanan kiri ibu-ibu berteriak untuk anak
kecilnya
Agar segera mandi sebentar lagi bapak-bapak
mereka pulang membawa harapan
Harapan ?
Benarkah aku berharap kau ada disini
Meski rindu menggetarkan lutut ku ?
Gambar kau masih ada di mega yang mulai tak
Nampak,…
Uh, mulai malam..
Aku belum mandi satu hari !
Jan, 2000
Kembang buat kau
Dibatas lembah untuk sesaat aku terhenti
Memandang puncak yang menyatu dengan langit
Aku harus sampai disana mengantarkan
kembang sebagai bukti kesetiaan
Akan hidup yang kau hembuskan
Tak peduli luka-luka
Karena ini penghambaan ku pada-mu
Sampai nanti bumi menyimpanku
Dalam peluk abadi
Oh… sang maha hidup
Aku ingin diam dalam biru sejahtera-mu
Diatas lembah aku lengkingkan kerinduan
Setelah remuk-remuk zaman
Melumat seluruh tulang
Tapi biar tetap ku jaga genggam kembang
Agar kau tahu Cuma kau kekasihku
Oh sang maha kasih
Lantarkan aku dalam api suci-mu….
Dibatas lembah aku mulai melangkah
Membawa kembang
Dalam ihktiar panjang pendakian
Namamu ada dalam nafasku
8 feb 00
=tak=
Tak juga taka apa,tak bunga tak soal ;sebab,,
Ada tak yang tak tak ,walau
Harpiah bilang tak yang tak
Pun semantic tak memang tak
Tak …
Tak…
Yakikahku tak
Pada blunder keadaan
Yakinkah kau tak
Dalam himpit lars
Yakinkah mereka tak
Siapa mengerti kedalaman hati
Kita bertatapan mata
8feb jam.1.30
Dua hal yang membahagiakan seorang
laki-laki ,yaitu ;
Perempuan dan anak ‘’
Antara jalan raya dan batang rokok
Ah.. kembali aku menghisap racun
Berapa detik,berapa menit atau
Berapa jamkah
Proses percepatan organ-organku?
KAUADADIAORTA
ARTERIDANVENA
KAUADADIEUSTACHIUS
URETERDAALVEOLUS
ADADILIMFADANEMPEDU
DISINUSOIDAL
JONTOT-JONTOT
KAU DISINI
Mart 2000
Cabang
Jangan berpaling jika kau pergi
Biar saja aku menatap punggungmu
Sebagai penghantaran dan
Salam perpisahan
Cukupkah itu ?
Kita pernah berada pada satu titik
Jejak-jejak kita pernah berpadu
Sebenarnya aku tak tahu
Kenapa kita mesti berpisah atau
Kenapa kita mesti bertemu atau
Kenapa kita saling peluk saling cium
Tapi juga saling maki
Yang jelas di depan sana
Banyak sekali jalan
Banyak sekali pilihan
Dari sini kita ambil jalan berbeda lagi
Entahlah apa yang akan kita temui ….
Jika suatu saat kita bertemu lagi
Dapat bertukar cerita
Tentang banyaknya pilihan
Menuju kematian ….!!!!
Maret 2000
Merdeka
Untuk setiap jiwa
Merdeka…..
Untuk setiap kata
Merdeka……
Pada semua takut
Yang menjemput
Lewat lorong arasy
Mendekap ajna …
Di barzah
Aku genggam mutiara
Buat giwang malaikat
Yang
Merdeka ……….
“………………………”
Jan 99
Lautan bunga
pucuk teh yang mandi matahari
Dari arah hati aku menatapmu
Berikut angin yang tersimpul
Membawa jejak-jejak bunga dan kelopak
Yang terburai……….
Aku rindu hari hujan yang luruh di daun
Atau jadi embun di kaki malam
Saat nurani kembali kembang
Mendekap legam rambutmu
Yang menyala bagai gelora bara …..
Pucuk the yang mandi embun
Dan hatiklu bagai pelepah
Ku buka tanganku yang genggam benih
Pada halaman parau kan kusebar ia
Biar tumbuh bunga-bunga
Biar kembang kembang kembang
Biar jadi lautan
Tempat musafir berenang
Dan mereguk harum cinta
Di sini
Di halaman parau
4 juli 00