27 Oktober 2011

KUMPULAN SAJAK


MULAILAH MEMBERI
Bila tak seorangpun tak berbelas kasih pada kesulitan anda, atau tak ada yang mau merayakan keberhasilan anda,
Atau tak seorangpun bersedia mendengarkan, memandang, memperhatikan, apapun pada diri anda, jangan masukan ke dalam  hati
Manusia selalu disibukan oleh urusannya sendiri
Anda tak perlu memasukan itu ke dalam hati
Karena hanya akan menyesatkan dan membebani langkah anda
Ringankan hidup anda dengan memberi pada orang lain
Semakin banyak anda memberi semakin mudah anda memikul hidup ini
Berdirilah di depan jendela, pandanglah keluar, tanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa anda berikan pada dunia ini
Pasti ada alasan kuat mengapa anda hadir disini
Bukan untuk merengek atau meminta dunia menyanjung anda
Keberadaan anda bukan untuk kesia-siaan
Bahkan se ekor cacingpun dihidupkan untuk menggemburkan tanah,
Dan sebongkah batu dipadatkan untuk menahan gunung
Alangkah hebatnya anda dengan segala kekuatan yang tak dimiliki siapapun untuk mengubah dunia
Itu hanya terwujud bila anda mau memberikannya




=SAAT=
Mei 2004
Keterpaksaan..
Itulah yang terjadi saat ini
Terbelenggu …..
Itulah persaan saat ini
Mengapa ?
Hanya diam kebisuan disekitar
Beribu tanya tak terucap
Melingkar kepala berguruh akan kepastian
Hela nafas berat dan sesak
Badan remuk hati tergores
Haruskah berteriak memanggil,
Tuhan kau dimana ?...
Sedang aku terpuruk akan kenikmatan duniawi
Jalan hitam ditempuh bersama
Bayangan setan kematian
Angan melayang tinggi jauh di awan
Badan diam menahan kenikmatan
Tetesan dosa mengalir perlahan
Menggoreskan catatan hitam
Bermuara pada penyesalan
Saat ini dan itu
Masihkah tuhan milikku ?……

Hal;
-harapan dan ratapan para pendosa-
-Diambil saat terjadi-
- kisah nyata sang penulis yang merupaka pengalaman yang benar-benar terjadi-
- untuk jadi cermin buat pengarang-
- hanya mengingatkan pada dirinya sendiri-
-tuhan tidak membutuhkan manusia-
-……..-…….-………-…….-……-……-















-HAMPA JIWA-
Kala badai menerpa jiwa, tetaplah kau tegar berdiri
Kala cinta kian memudar,
Pastikan cintamu takan hilang
Cinta itu indah
Bagi mereka yang dapat meraihnya
Jangan kau kejar cinta
Bila hatimu sedang gundah
Cinta takan menghampiri ketulusan hati
Untuk menyejukan jiwa
Dan mengisi kehampaan hati untuk
Jiwa yang kosong….
100105
Jam. 03.13.00 ( RIiNA )
Sang pujangga








SADARKAH
Diantara dua kekasihku dan diantara dua cintaku
Yang terbagi dengan cintamu
Sadarkah aku tak mungkin dua cinta
Sadarkah aku tak mungkin dua kekasihku
Yang harus jadi pendampingku
Harus ku pilih satu, harus kulepaskan dirimu
Maafkan aku melukaimu
Tak jadi pendampingku
Karena yang terbaik untukku
Dan itu terbaik untukmu
Maafkan aku melukaimu
Tak bisa bersamamu
Refro :2005









BAYANGKAN
Bayangkan….
 Bila ku tak lagi didekatmu
Bila ku tak lagi dihatimu, aku akan pergi jauh
Dan bila esok hari kan jadi kelabu
Hari-hari yang telah kita lalui akan menjadi debu
Hatimu menangis, hatimu terluka
Maafkan aku bila harus pergi dan tak pernah kembali
Hanya sebuah waktu yang pasti menunggu
Suatu saat nanti kita kan bertemu kembali
Refro: 2006












JIWA
Aku adalah jiwa yang tertekan
Tertekan kehidupan dengan kebutuhan
Kepala berair dan badan berair
Terkumpul membentuk nafas kehidupan
Hidup yang takan berujung di suatu jalan
Jalan pernafasan dari sebuah cerita
Aku adalah tekanan kehidupan
Merayap dan tersendat
Menyelip diantara kesombongan
Menggoreskan kepedihan jiwa terlunta
Demi penguasa dan keangkuhan
Dunia tak mau dipenuhi tekanan
Bumi pun enggan jadi tempat berpijaknya
Para angkara yang berpesta
Hidup tertawa beralas derita sesama
Aku adalah jiwa yang bebas
Kan ku langklahkan raga menuju kemenangan
Dimana aku kan jalani dengan kepuasan sampai dunia tahu
Akulah jiwa kebebasan !
x-mast,dec


=======
Kembali ku ingat dirimu,
Dirimu yang t’lah lama membeku
Lama ku tunggu akhir dari pengharapan
Berharap kau seperti apa yang aku inginkan
Sewindu sudah aku bermimpi
Bermimpi dalam kenyataan yang sebenarnya hanya harapan
Ingin aku merajut tali kasih bersamamu
Bercanda, tertawa, bercinta layaknya sejoli …… ( terlalu gombal)
Sewindu ku berjalan dalam kehampaan
Ketidakpastian akan masa depan tak perduli
Tak perduli ….. tak perduli…. Tak perduli….
Sekali lagi tak perduli, itu ucapmu…
Tengah malam, 230405








…………
“…………..”
Ku tak mau mengingatmu lagi, ku tak mau bertemu lagi,
cukup lama aku hidup dalam bayanganmu itu, yang telah menghancurkan perasaan ini
Ku tak mau berharap lagi hatimu untuku, sebab itu hanya sebuah kesalahan besar
Kau tercipta sebagai tanda keagungan Tuhan, yang patut ku nikmati bukan kumiliki
Maafkan aku agak melupakanmu, maafkan aku tak perduli segala auramu
Peluk cium itu hanya biasa dan terbiasa, sampai lupa dimana arti kata cinta
Ku ingin memilikimu untuk yang terakhir, apalah kata berlainan makna
Ku kan coba melangkah perlahan menjauh dari lingkaran cintamu
Agar tak ku cium lagi wangi rambutmu yang sempat membuat aku gila
Cukuplah sayang,…. cukup sampai disini
Kau lebih baik pergi dan tak kembali
Jaga dirimu dan cintailah cintamu, sayangilah sayangmu, rindumu juga hidupmu
Kita harus berpisah tapi bukan terpisah, dan kita yakinkan ini jalan terbaik
Utara, selatan, timur, barat itu arahmu, dan ku kan berjalan berlawanan
Selamat jalan dan selamat tinggal, bawalah segala rasa yang kau punya
Jangan tinggalkan titik kenangan disini
Hati do’a kita ucapkan bersama, bahagia kau dan aku selamanya

For someone :
 yang t’lah memberikan seribu pragmen cinta
Kuyakinkan dirimu bukan untukmu
1999
‘’…………………………..’’
Mulailah …....
Aku mulai mencatat apa yang dirasakan dan apa yang difikir…
Melayang terbang jauh sekali,
Tak terjangkau fakta nurani
Langkah di tempuh tanpa arah
Akankah matahari berhenti
Memperlihatkan kesilauan tubuhnya
Demi nafsu angkara !
Mulailah………
Aku mulai merasakan ..dimana sesuatunya sangat ratiotic
Jala hidup pangjang terawang namun sulit tuk di tempuh dengan santai
Inikah hidup sang pujangga?
Aku adalah pujangga kehidupan yang terbang dalam kebodohan
Yang tertidur dalam kesombongan
Yang bernafas dengan kebokbrokan
Mulailah……..
Ku in gat arti kehidupan ini semua tak berarti
Hidup bukan sekedar hidup  itulah yag dim catat
Ketidakpuasan bikanlah hidup
Itulah yang dirasakan
Apa yang kalian catat dan rasaakan ?
161104
LARUT
Larut sudah anganku juga bayangmu
Larutlah segala apa yang ada
Dari daun pintu ku lihat lagi dirimu
Dirimu yang selama ini tak ku pahami
Satu dekade larut dalam ambang tak tentu
Kucoba tuk cari kata-kata yang dulu itu
Kata biasa tapi sungguh luar biasa
Dimana kaulah simponi ritme ini
Mengalun hingga membuat orang melayang
Dari dulu kau telah tau iramanya
Mengapa hilang begitu cepat ?
Andai waktu bisa kembali
Takkan aku titipkan rindu ini padamu
Yang kau bawa dan kau simpan untuk di buang
Kini kau tepat dihadapanku
Hanya air matamu yang bercerita semua
Ku coba mengerti apa yang terjadi
Gelap,resah,dan kecewa yang ada sesak tak tertahan lagi
Kau tidak jauh beda dengan gumpalan awan hitam
Bergulung kemudian memudar dihempas angin dan aku terhenyak dalam kebisuan
Larutt…….larut sudah anganku
Laruttttt….. dalam penyesalan, sementara
Aku masih mencoba cari sebuah kata yag telah lama hilang
Dec2004

Sadar
Ada setitik kebanggan terlintas kala petualang sadar dari ceritanya pantaskan dia berangan
Jauh terlau jauh berangan tapi aku adalah sang petualang ya itulah aku
Samar kulihat bentuk suatu kehidupa antara pilihan yang tak pernah ku pilih
Aku hanya berangan keajaiban datang yang segalanya takkan kunjung
“monyet jadi raja itu cerita lalu dan aku masih mengingatnya biarlah dia berpetualang
Dec2004
Lagi – lagi
Lagi-lagi tentang kau mata berkaca penuh kerinduan
Lagu ini telah lama kau matikan sesaat setelah kau beranjak ke kota itu
Seolah elegy yang membuatku terlelap lagi
Lagi-lagi kau
Asap mengepul dari arah yang berlawanan ketika kau ikuti arah perginya bayangmu
Mengepul bergulung dan sirna rupanya itulah wujud sebuah khayalan
Lagi-lagi
Ku usap peluh di kening  dan mencoba tuk berpaling dari segalnya
Karena hidup bukanlah mimpi dan tanganku takkan berhenti disini sampai lagu itu tlah ku dapatkan dan tenang pun bersandar disana kau dan aku bersandar dan lagi-lagi tentang kau
Akankah ?
Novenber awal 2004
-abdoel-
Puncak kebun teh
Deru beruang masai kuduk beruang masai langit gelap diatas perkebunan the
Malam hanya hitam sewarna rambutnya
Bintang bintang serta energy alam berpindah dari kai dan tubuh halimah yang telanjang semerbak ragwinya adalah aroma daun teh muda dan butir-butir embun
Aku menghujam pada bumi yang penuh gelora
Dijalan ibu kota diprotokol-protokol arteri-arteri dipagar ibu kota di gedung-gedung beton-beton karpet-karpet dan ruang-ruang kantor bagai seribu ifrit yang menghisapi sum-sum
Adakah yang lebih menyakitkan dari penghilangan  suatu kesempatan
Halimah namanya ……….
Ia tinggal di batas desa kulit tanganya halus dan lembut tak biasa kerja kasar katanya
Ah,,suaranya gemerisik daun bambu
Klakson-klakson kendaraan dan lampu merah -lampu merah yang mati membuat ruwet jalanan begitulah derai lengking tawaku menatap matahari yang membuat bayangku rebah di trotoar
Adakah yang lebih memilukan dari pemberitahuan jiwa dan harapan?
Sembilan belas tahun umur halimah ( aku suka angka Sembilan )
Sekarang ia sudah tak sekolah seumur hidupnya ia ingin sekali ke kota
Bekerja dan menjadi terkenal seperti artis-artis sinetron
Mengapa tidak ? Katanya……………….
Deasy ratnasari berasal dari desa
Hangat tubuhnya merasuki jiwaku membawa keheninga yang nyata
Ia tersedak pada ciuman pertama
Di de-pe-er ada demonstrasi lagi kata penjual Koran
Di semanggi dan gatot subroto mahasiswa dan rakyat di tembaki dan disepak-sepak aparat
Ada yang mati lagi kata penjual Koran  dan yang luka – luka banyak sekali di rumah sakit Jakarta
Taksi-taksi hancur dan kendaraan umum tak beroperasi mau pulang atau ikut demontrasi?
Kata penjual Koran kalau ikut biar bareng saya siapa tahu dapat rejeki
Rambut halimah legam lebat hutan Kalimantan
Keharuman kembang cempaka menjadi miliknya
Matanya jatuh di pundakku ketika telapakku menyentuh dadanya
Aku punya kebun teh diatas bukit , katanya…….
Beberapa sudah harum baunya
Halimah ohh halimah ,
Aku menghujam pada bumi yang sedang bergelora
Gedung-gedung ini aspal-aspal ini menderaku bagai apartheid
Mengikisku dari khayalan social bagai kolera
Ahhh,,masa apa iniii….
Yang menggiring hukum manusia menjadi hukum rimba
Membuat tanaman teduh menjadi kaktus-kaktus membuat kelahiran sekaligus kematian
Membuat berjuta orang onani membuat isi gelas menjadi air kencing
Sungai-sungai lembah-lembah mencari jejak-jejak kehidupan
Aku melihat tubuhku dipenuhi gubuk-gubuk kardus kali-kali hitam teriak lapar bocah-bocah berkepala besar
Ohh,, suaranya gemirisik daun bamboo melingkar lingkar mengepuh setiap pori
Ia membawaku pada padang-padang ilalang subur tempat terbaru menariku lepas dari bumi
Mengempasku pada kulminasi syarat
Oh tuhan ….. kau dimana
Aku menghujam pada bumi yang penuh gelora
Diatasku , langit sunyi …… retak
November2000
23.00


Kembang Batu
Kembang diatas bukit, tumbuh semampai dijaga angin sewarna senja
Ia makin mekar terpisah beberapa bukit
Adalah pupuk bagi akarnya
Di kemarau ia buat sajak-sajak
Musim hujan terserang rindu
Waktu kian waktu tercatat sempurna
Pada daun dan batangnya
Kembang tidur bulan tidur
Matahari sampai saat nanti tersemat
Di keutuhan jiwa
01.30 Nov 2000


Kabut Pangrango
Kabut pangrango sepenuhnya hinggap dimataku
Dingin pangrango sepenuhnya bebat tubuhku
Misting-misting aku rasa masih berserakan
Kopi yang aku rebus tadi jadi es
Ah, .... masih lama dari fajar
Aku rindu kekasihku


Peristiwa
Mei, Malam Rabu 00.40 2004
Tiada guna kukatakan
Saat malam menjelang
Kau ibarat bayangan hitam
Rintik hujan turun masih berasa
Basah merebah berlumur amarah
Saat itu .... tunas kasih tumbuh berkembang
Seketika berubah jadi keraguan
Ragu akan kehadiran harimu
Pada asa dan isi nurani
Aku kembali bertanya pada malam
Mengapa ini harus kulalui
Kasih manis berganti kealfaan
Aku ragu akan dirimu !


Ada segumpal penyesalan
Aku telah mengusik tanaman itu
Bunga segar kupetik hampir layu
Meninggalkan jejak
Sementara aku terbaring lemah
Saat mataku jatuh didadanya
Hanya desahan yang kudengar
Kembali berulang ...
Lalu sirna lenyap
Seulas senyum puas kala kuberusaha sadarkan diri
Sesal itu tak hilang
Malah membayang
Hanya keraguan kudapatkan


Teja disudut mata
Sebatang rokok sebutir aspirin
Segelas teh manis dan sejuta nyut-nyutan di kepala
Aku tergolek di limbah hidup
Terserang demam
Dan influenza
Menggigil dan linu
Aku harap ada hujan datang
Biar aliri rambut, alis, dan bulu-bulu mataku
Biar samarkan air mata
Dari kehampaan kini
Aku ingin wukuf, aku ingin sa’i
Berdengung-dengung memanggil cahaya
Sepertinya telah lama
Aku berkirim surat
Ke Sidratul Muntaha
Mohon pinjaman hari esok, tapi belum dapat jawaban


Pesisir
Jam 20.00
Lidah buih mencium pasir pada peluk laut
Akan tanah dibatas perkampungan
Nelayan pergi dan pulang bersama anak mereka
Yang jelang dewasa coba katakan
Inilah laut nafas kehidupan yang juga dihembuskan perempuan pesisir lewat sepanjang waktu dari fajar hingga fajar
Dari ranjang hingga gelak pasar
O .... kibarlah kibar layar
Hembuslah hembus angin
Bawa perahu nelayan ke tengah senyap
Dengan gelora jala dan pancing
Dari degup jantung laut dan degup hidup kaum pesisir


Pesta
Usai pesta tak lagi hingar bingar
Tinggal gelas piring mangkok, nampan sendok, garpu, dan makanan sisa, minuman sisa terserak
Serak, dilantai dan meja tak ada bak sampah
Hanya botol kosong membuat pusing senyap
Dan sunyi harummu masih bekas melekat
Pada langkah pertama birama dansa
Berapa langkah lalu kau pergi tergesa
Di lingkup bola manusia jadi tirai bingkai terakhir
Perspektif jauh dari jangkau
Aku tiba-tiba lelah dan kulai
Terbujur merindukanmu
Dalam gelap sergap lingkup vodka ...
Jalan sepi hampir pagi
Aku tenggelamkan wajah pada embun
Mencerna setiap pori kejadian pesta
Yang membuat jatuh cinta



Ada tiga hal yang membuatku bahagia sekaligus menentramkan,
Hal pertama ;
Siang hari di padang stepa yang cerah
Karena letihku aku sandarkan tubuh
Pada pokok pohon yag rindang
Saat itu ada seekkor elang melintas di cakrawala biru..
Hal kedua ;
Sore hari dekat senja di padang pasir yang kemerahan
Karena lelahku aku tautkan tubuh pada diam bongkah batu
Saat itu seekor ular melintas di rangkum matahari
Hal ketiga ;
Ini hal yang paling membahagiakan sekaligus menentramkan
Yaitu saat kau berada dekat denganku…
Jan 05

AKU PELUK KAU KARENA KERAGUAN
……………………………………………..
Sore hari
Diatas loteng rumah kayu
Aku menatap jalanan lurus yang menghilang dibalik bangunan
Cahaya matahari lewat daun dan dahan
Membentuk garis-garis
Lalu menempel di tanah aspal
Berbaur dengan serak kembang flamboyant
Melingkar menyebar menggumpal mengkrucut
Lalu terlempar ke angkasa menjadi kau
Yang menyerap mata dan seluruh syaraf
“ aku sedang rindu,”
Lama kita tak saling jumpa
Jarak di depan pun tak kurang jauhnya
Tapi berartikah ?
Di setiap belukar dan jalanan aspal, selalu kucari bara yang pernah terhidupkan bersama
Agar jadi pasti tentang mimpi-mimpi tidurku serta kau
Agar jelma jadi keringat, sebuah kumpulan bahagia dalam danau dan biduk yang tenang seperti mekar teratai pada semedi ajna, tapi layakkah ?
Burung-burung mulai pada pulang induk-induk menyapa anak-anak mereka
Dalam hangatnya sarang dijalan atau di  kanan kiri ibu-ibu berteriak untuk anak kecilnya
Agar segera mandi sebentar lagi bapak-bapak mereka pulang membawa harapan
Harapan ?
Benarkah aku berharap kau ada disini
Meski rindu menggetarkan lutut ku ?
Gambar kau masih ada di mega yang mulai tak Nampak,…
Uh, mulai malam..
Aku belum mandi satu hari !
Jan, 2000


Kembang buat kau
Dibatas lembah untuk sesaat aku terhenti
Memandang puncak yang menyatu dengan langit
Aku harus sampai disana mengantarkan kembang sebagai bukti kesetiaan
Akan hidup yang kau hembuskan
Tak peduli luka-luka
Karena ini penghambaan ku pada-mu
Sampai nanti bumi menyimpanku
Dalam peluk abadi
Oh… sang maha hidup
Aku ingin diam dalam biru sejahtera-mu
Diatas lembah aku lengkingkan kerinduan
Setelah remuk-remuk zaman
Melumat seluruh tulang
Tapi biar tetap ku jaga genggam kembang
Agar kau tahu Cuma kau kekasihku
Oh sang maha kasih
Lantarkan aku dalam api suci-mu….
Dibatas lembah aku mulai melangkah
Membawa kembang
Dalam ihktiar panjang pendakian
Namamu ada dalam nafasku
8 feb 00
=tak=
Tak juga taka apa,tak bunga tak soal ;sebab,,
Ada tak yang tak tak ,walau
Harpiah bilang tak yang tak
Pun semantic tak memang tak
Tak …
Tak…
Yakikahku tak
Pada blunder keadaan
Yakinkah kau tak
Dalam himpit lars
Yakinkah mereka tak
Siapa mengerti kedalaman hati
Kita bertatapan mata
8feb jam.1.30








Dua hal yang membahagiakan seorang laki-laki ,yaitu ;
Perempuan dan anak ‘’
Antara jalan raya dan batang rokok
Ah.. kembali aku menghisap racun
Berapa detik,berapa menit atau
Berapa jamkah
Proses percepatan organ-organku?
KAUADADIAORTA
ARTERIDANVENA
KAUADADIEUSTACHIUS
URETERDAALVEOLUS
ADADILIMFADANEMPEDU
DISINUSOIDAL
JONTOT-JONTOT
KAU DISINI
Mart 2000







Cabang
Jangan berpaling jika kau pergi
Biar saja aku menatap punggungmu
Sebagai penghantaran dan
Salam perpisahan
Cukupkah itu ?
Kita pernah berada pada satu titik
Jejak-jejak kita pernah berpadu
Sebenarnya aku tak tahu
Kenapa kita mesti berpisah atau
Kenapa kita mesti bertemu atau
Kenapa kita saling peluk saling cium
Tapi juga saling maki
Yang jelas di depan sana
Banyak sekali jalan
Banyak sekali pilihan
Dari sini kita ambil jalan berbeda lagi
Entahlah apa yang akan kita temui ….
Jika suatu saat kita bertemu lagi
Dapat bertukar cerita
Tentang banyaknya pilihan
Menuju kematian ….!!!!
Maret 2000
Merdeka
Untuk setiap jiwa
Merdeka…..
Untuk setiap kata
Merdeka……
Pada semua takut
Yang menjemput
Lewat lorong arasy
Mendekap ajna …
Di barzah
Aku genggam mutiara
Buat giwang malaikat
Yang
Merdeka ……….
“………………………”
Jan 99







Lautan bunga
pucuk teh yang mandi matahari
Dari arah hati aku menatapmu
Berikut angin yang tersimpul
Membawa jejak-jejak bunga dan kelopak
Yang terburai……….
Aku rindu hari hujan yang luruh di daun
Atau jadi embun di kaki malam
Saat nurani kembali kembang
Mendekap legam rambutmu
Yang menyala bagai gelora bara …..
Pucuk the yang mandi embun
Dan hatiklu bagai pelepah
Ku buka tanganku yang genggam benih
Pada halaman parau kan kusebar ia
Biar tumbuh bunga-bunga
Biar kembang kembang kembang
Biar jadi lautan
Tempat musafir berenang
Dan mereguk harum cinta
Di sini
Di halaman parau
4 juli 00


































Tidak ada komentar:

Posting Komentar